Cat Ulang Tembok Hukum yang Terkelupas

Cat tembok hukum di Indonesia semakin lama semakin terkelupas dan memperlihatkan belangnya. Dengan kalimat lain, kebrobokan hukum di negeri ini kian memprihatinkan. Semakin lama semakin memperlihatkan lunturnya kekuatan hukum di negeri ini. Ironisnya, kelunturan itu banyak disebabkan oleh manusia-manusia jajaran atas dan menengah pemerintaha—termasuk koloninya.

Kasus yang baru-baru ini menggemparkan masyarakat dan membingung-kan sejumlah tokoh dari berbagai kalangan membuat hukum Indonesia sangat buruk di mata(nya) sendiri, bahkan di mata dunia. Kasus ketidakberadaan Gayus Tambunan, terdakwa kasus suap dan mafia pajak di selnya dan munculnya ia di tribun penonton di turnamen tenis wanita internasional di Nusa Dua, Bali membuat sejumlah headline surat kabar dipenuhi dengan foto wajah (mirip) dirinya yang menggunakan rambut wig dan kacamata.

Hal ini tidak hanya membuat jutaan masyarakat geram akan dirinya, tetapi presiden RI, Susilo bambang Yudhoyono pun ikut geram. Kasus ini benar-benar mencoreng citra hukum Indonesia.

Sebenarnya, kasus ‘kecolongan’ ini sudah sering terjadi di lingkungan hukum kita. Permasalahannya sejauh mana pihak penegak hukum dan perangkat lain yang harusnya tak hanya menegakkan tapi juga menjaga serta berkomitmen terhadap hukum Indonesia agar aparat hukum tak semena-mena mempermainkan dan dipermainkan. Masalah lain ialah beberapa mata aparat penegak hukum mudah tertutup dengan uang panas. Inilah penyumbang utama kebobrokan aparat.

Tetapi masalah hukum dan kenegaraan adalah masalah rakyat juga. Tembok hukum harus dicat ulang dengan warna baru. Undang-undang dan sanksi hukum harus benar-benar direvitalisasi dan ditegakkan untuk siapa saja tanpa memandang status. Kerjasama yang sinergis antara aparat dan rakyat akan membuahkan keadaan yang lebih baik untuk Indonesia yang lebih baik tentunya. Agama serta moral etika kemanusiaan harus menjadi pondasi tiap orang minimal untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari godaan dan ancaman.

Category: Academic
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *