Archive for » August, 2010 «

FIQIH PUASA

  • Puasa dan Hikmahnya

Puasa merupakan rukun Islam yang ke empat. Puasa yang dimaksud dalam rukun Islam ini adalah puasa di bulan Ramadhan tahun Hijriah. puasa dikategorikan dalam ibadah jasadiyah karena memerlukan aktivitas fisik.

Secara syar’i puasa berarti menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum, bersetubuh dan hal-halsmisalnya, selama sehari penuh dari terbitnya fajar hingga terbenamnya fajar dengan niat memenuhi perintah-Nya.

Segala sesuatu yang Allah perintahkan selalu bermanfaat dan membawa hikmah karena ibadah yang manusia lakukan sesuai dengan fitrah manusia.

Diantara hikmah berpuasa antara lain adalah :

  1. Tazkiyah an-nafs (pembersiahn jiwa)
  2. Menyehatkan badan
  3. Mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi dalam diri manusia
  4. Sebagai tarbiah bagi kemauan, jihad bagi bagi jiwa, pembiasaan kesabaran.
  5. Mengurangi hawa nafsu dan syahwat
  6. Menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah SWT kepadanya
  7. Meningkatkan perasaan sosial dan empati
  8. Mempersiapkan orang menuju derajat taqwa dan naik ke kedudukan orang-orang muttaqin.
  • Puasa Ramadhan dan Penetapannya

Jika dilihat dari aspek hukumnya, puasa ada bermacam-macam. Ada puasa wajib, puasa sunnah, puasa, makruh, dan puasa haram.

Puasa wajib ada tiga macam :

Pertama, fardhu ‘ain, yaitu puasa yang diwajibkan Allah pada waktu tertentu, yaitu puasa Ramadhan.

Kedua, fardhu karena sebab tertentu, yaitu puasa kafarat (tebusan), misalnya tebusan sumpah, tebusan zhihar, tebusan karena pembunuhan yang salah, dan lain-lain.

Ketiga, puasa yang diwajibkan atas dirinya sendiri, contohnya puasa nadzar.

Dalam hal ini kita akan bahas lebih dalam tentang puasa Ramadhan. Puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadhan ini termasuk fardhu ‘ain bagi tiap-tiap muslim yang mukalaf tanpa kecuali, baik pada masa lampau maupun masa sekarang. Kewajibannya mengikat orang awam maupun khusus tanpa memerlukan kajian dan dalil lagi.

Allah mewajibkan puasa atas orang yang sehat dan yang tidak sedang bepergian (muqim) dan memberi dispensasi bagi orang yang sakit dan musafir.

Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan Qamariah dalam sistem penanggalan Islam (Hijriah). Allah SWT mewajibkan puasa di Bulan Qamariah bukan semata-mata tanpa sebab, tetapi karena ada hikmah yang akan kita dapatkan dan ada sebab tertentu. Bulan Qamariah beredar di antara musim selama setahun. Kadang waktu puasa jatuh di musim dingin, beberapa waktu ke depan akan jatuh di musim yang lain, dan itu berlaku kontinu. Hikmah yang dapat diambil dari sebab-sebab di atas adalah adanya keadilan Islam bagi seluruh muslim di dunia.

Masuknya bulan Ramadhan ditentukan berdasarkan munculnya hilal (bulan sabit) di ufuk. Penentuannya dapat ditetapkan dengan tiga cara, yaitu dengan Ru’yah hilal, menyempurnakan Sya’ban menjaid 30 hari, dan memperkirakan hilal. Sebagian besar ulama besar sekarang menetapkan jatuhnya hilal berdasarkan hitungan astronomi.

Jika hilal terlihat di siang hari, maka Bulan Ramadhan masuk pada siang hari. Kita sebagai muslim diwajibkan berpuasa di sisa waktunya. Dari Rabi’ binti Mu’awidz bin ‘Afra berkata “Rasulullah Saw. mengutus seseorang di pagi hari tanggal 10 Muharram ke desa-desa Anshar di sekitar Madinah (agar mengatakan), barang siapa berpagi hari melakukan puasa, maka sempurnakanlah puasanya, dan barangsiapa berpagi hari tidak puasa maka berpuasalah di sisa harinya.

  • Orang-orang yang Wajib Berpuasa

Puasa di bulan Ramadhan hukumnya adalah fardhu ‘ain karena termasuk Rukun Islam. Puasa wajib dilaksanakan oleh setiap mslim yang balig, berakal, sehat, dan bukan musafir serta tidak memiliki halangan yang syar’i—seperti haid dan nifas bagi perempuan.

Sebenarnya puasa di bulan Ramadhan ada syaratnya, yaitu :

  1. Beragama Islam
  2. Balig
  3. Sehat jasmani
  4. Berakal
  5. Suci (tidak sedang haid dan nifas—bagi perempuan)

Syarat-syarat di atas harus terpenuhi, jika tidak maka puasanya tidak sah.

Tetapi ada kondisi di mana seseorang tidak diwajibkan berpuasa di hari di bulan Ramadhan. Keadaan seperti ini dinamakan uzur.

  • Orang-orang yang Uzur Berpuasa

Dalam hal ini ada beberapa keadaan yang berbeda sehingga berbeda pula perlakuannya.

Pertama, uzur yang mewajibkan pemiliknya berbuka dan haram berpuasa. Ini berkaitan dengan uzur perempuan, yaitu haid dan nifas.

Kedua, uzur yang membolehkan pemiliknya berbuka, dan dalam keadaan tertentu diwajibkan, tetapi ia wajib meng-qadha. Ini berkaitan dengan sakit dan orang-orang bepergian jauh.

Ketiga, uzur yang membolehkan pemiliknya berbuka, bahkan terkadang mewajibkannya dan tidak perlu meng-qadha namun memberi fidyah. Ini uzur untuk orang tua renta dan orang berpenyakit parah hingga tak ber-daya.

Keempat, uzur yang masih diperselisihkan ulama tentang jenisnya. Ini berkaitan dengan orang hamil dan menyusui.

Kelima, uzurnya orang yang berat untuk melakukan puasa karena jenis pekerjaannya, seperti pekerja tambang dan sejenisnya.

Untuk seorang musafir, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Musafir dibolehkan berbuka jika sudah lewat 80 – 90 km, dan tidak boleh berbuka sebelum keluar dari batas kota asalnya.

Untuk tua renta dan sakit (menahun) adalah mereka yang sudah tua—baik laki-laki maupun perempuan yang tulangnya sudah lemah dan usianya sudah lanjut, di mana mereka sudah tak dapat lagi bekerja. Sedangkan orang lanjut usia yang pikun dan tak kuat berpuasa juga dibolehkan untuk berbuka dan tidak perlu meng-qadha.

Untuk perempuan hamil dan menyusui, mereka boleh berbuka tetapi harus membayar fidyah. Tetapi untuk perempuan yang masa kehamilannya ber-jauhan, dan hidup di kota yang pada umumnya tidak merasakan susahnya kehamilan dan menyusui—kecuali dua atau tiga kali, maka yang tepat adalah meng-qadha sebagaimana pendapat jumhur.

Hal-hal yang membatalkan puasa. Semakin berkembangnya zaman telah banyak hal-hal yang hadir di mana hal tersebut belum ada di zaman Rasulullah sehingga terkadang belum ada hukum yang langsung dari Quran ataupun Sunnag Rasulullah. Seperti halnya dengan hal-hal yang membatalkan puasa, telah banyak ahli fiqih yang memperlebar pembahasannya sehingga terdapat banyak hal-hal yang membatalkan puasa.

Diantara mereka ada yang berkata bahwa kemasukan benda seperti kerikil misalnya, lalu masuk ke jauf—ruang berongga di dalam tubuh manusia, maka batal puasanya.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah : 187 yang artinya

Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.

Inilah tiga hal yang ditetapka , yang dilarang dilakukan saat sedang berpuasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tiga hal ini dan beberapa hal yang dianggap satu tipe seperti merokok, menyirih, dan sejenisnya.

Berhubungan dengan hal di atas, suntikan atau injeksi—baik disuntikkan ke otot, ke pembuluh darah maupun bawah kulit, sampai sekarang masih menjadi persoalan dan bahan diskusi masyarakat. Untuk suntikan pengobatan, ulama kontemporer sepakat bahwa itu tidak membatalkan puasa. Tetapi jika suntikan bertujuan sebagai pengganti makanan (suntikan berisi larutan makanan seperti glukosa, dll) maka itu membatalkan puasa. Hal ini biasa kita jumpai di rumah sakit sebagai infus.

Selain hal di atas,  ada hal lain yang menjadi bahan diskusi masyarakat, yaitu mencium. Sebenarnya tidak ada masalah bagi orang yang berpuasa mencium istri atau suaminya selagi hal itu tidak memicu hawa nafsunya.

Aisyah r.a. berkata, “ketika itu Rasulullah saw mencium dan mencumbu dalam keadaan berpuasa dan beliau adalah orang yang paling kuat di antara kalian dalam menahan syahwatnya”.(HR. Bukhari Muslim)

  • Hal-hal yang Disunnahkan Bagi Orang yang Berpuasa
  1. Mendahulukan berbuka
  2. Mengakhirkan sahur
  3. Menghindari omong kosong dan mencaci maki
  4. Qiyamulail malam Ramadhan dan sholat tarawih
  5. Berdzikir, taat, bersedekah serta berinfaq
  6. Doa sehari-hari
  7. Meningkatkan ibadah di sepuluh hari terakhir

Rahasia kesungguhan di sepuluh hari terakhir ada pada dua hal berikut:

Pertama, amal-amal perbuatan ditentukan oleh penutupnya.

Kedua, lailatul qadar terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

  • Puasa yang Diaharamkan dan dimakruhkan

Puasa-puasa yang diharamkan oleh syariah adalah puasa di hari raya, puasa di hari Tasyriq, puasa-puasa bid’ah—seperti puasa tanggal 12 Rabiul awwal, puasa 27 Rajab, puasa hari Nisfu Sya’ban, puasa istri tanpa izin suami.

Puasa-puasa yang dimakruhkan contohnya adalah puasa Dahr, puasa yang dikhususkan di hari Jumat dan/atau Sabtu, dan berpuasa tetapi tidak sholat.

diringkas dari buku : Fiqih Puasa Dr. Yusuf Qardhawi

Category: Academic  4 Comments

beasiswa KML Foundation

Buat kamoe-kamoe mahasiswa IPB yang berasal dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto…

Telah dibuka beasiswa dari PT. Kelola Mina Laut berupa uang saku sebesar Rp 150.000/bulan untuk satu semester, yaitu semester ganjil 2010/2011 terhitung Agustus 2010 – Januari 2011.

Persyaratannya :

  1. Anggota Himpunan Mahasiswa SurabayaGresik, Mojokerto, dan Sidoarjo Institut pertanian Bogor (Himasurya Plus IPB)
  2. Aktif di organisasi mahasiswa Himasurya Plus
  3. IPK min. 3,00
  4. Mengumpulkan formulir pendaftaran
  5. Memberikan kontribusi nyata pada himaSURYA Plus

(dapat didownload di sini)FORM BEASISWA KML

  1. Melengkapi formulir pendaftaran
  2. Foto 3×4 sebanyak 1 lembar
  3. Transkrip nilai semester genap
  4. Fotocopy KTM

Poin persyaratan 1 dan 2 dikirm lewat email ke beasiswakml.himasurya@gmail.com dan ditunggu paling lambat Jumat 20 agustus 2010 pukul 17.00 WIB. Konfirmasi pengiriman email ke PJ angkatan.

Sedangkan poin persyaratan 3 dan 4 diserahkan ke PJ angkatan maksimal 25 Agustus 2010.

Angkatan 46            : farid Faroci  (085717188516)

Angkatan 45                        : indah (085731248880)

Angkatan 44 dan 43                       : yunita(085655404982)

KML FOUNDATION

Organized by :

Himasurya Plus